Jurnal Peternakan Borneo http://jpb.politala.ac.id/index.php/jpb <p><strong>Jurnal Peternakan Borneo (JPB)</strong> is a scientific journal published by the Animal Feed Technology Study Program, Department of Agricultural Industrial Technology, Tanah Laut State Polytechnic. This journal publishes the results of scientific research twice a year, namely in June and December. The purpose of publishing this journal is as a source of reference in the development of research in the field of animal husbandry. The scope of this journal includes: Feed Nutrition and Technology, Livestock Production, Animal Product Technology, Livestock Socio-Economics. E-ISSN : 2985-3923 and P-ISSN : 2985-4113</p> en-US fadhlifajri@politala.ac.id (Fadhli Fajri, S.Pt., M.Pt (Politeknik Negeri Tanah Laut)) ahmadrusadi@politala.ac.id (Ahmad Rusadi Arrahimi, S.Kom., M.Kom ) Sat, 30 Dec 2023 03:30:23 +0000 OJS 3.3.0.17 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 EVALUASI BOBOT BADAN SAPI BALI JANTAN PADA PEMELIHARAAN INTENSIF DAN EKSTENSIF DI DESA TOHE, KECAMATAN RAIHAT, KABUPATEN BELU, NTT http://jpb.politala.ac.id/index.php/jpb/article/view/17 <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p>This research aims to evaluate the vital statistics of Bali cattle in Tohe Village, Raihat District, Belu Regency. Bali cattle have good reproductive performance and a high carcass percentage. This research used 75 male Bali cattle which were reared intensively and extensively. Cow body weight is measured through vital statistics measurements (body length, chest circumference and shoulder height). The results showed that male Bali cattle under intensive rearing had a higher body weight than cattle reared extensively, so this data was analyzed using an independent sample t test with SpSS 17.0 software to compare the average body weight of cattle reared using different rearing techniques. different. The results of the study showed that male Bali cattle that were kept intensively had a higher body weight with a weight of 345.57 ± 34.12 kg (P&lt;0.05), compared to those that were kept extensively which had a lower body weight, namely amounted to 265.57 ± 29.32 kg (P&lt;0.05). Body size in intensive rearing is higher than in extensive rearing systems, this is because the quality of the feed is better so it has a good influence on the growth of male Bali cattle productivity. Therefore, it can be concluded that an intensive rearing system can be applied to male Bali cattle to increase productivity, make them good seeds, and meet the protein needs of the Indonesian people.</p> <p><strong>Keyword: Bali Cattle, Intensive, Ekstensive.</strong></p> Edelnia Kristina Bere Copyright (c) 2023 Jurnal Peternakan Borneo http://jpb.politala.ac.id/index.php/jpb/article/view/17 Sat, 30 Dec 2023 00:00:00 +0000 Performa Produksi Persilangan Sapi Pesisir dengan Sapi Bali di Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan http://jpb.politala.ac.id/index.php/jpb/article/view/20 <p>ABSTRAK<br />Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Tujuannya untuk mengetahui kinerja produksi penyeberangan Pesisir dan Bali. Penelitian dilaksanakan selama 1 (satu) bulan yaitu bulan September sampai dengan bulan Oktober dengan metode survei. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara menggunakan angket dan observasi langsung terhadap objek. Data kuantitatif berupa panjang badan, lingkar dada, tinggi bahu, berat badan diukur pada 48 sampel kepala dari 42 petani. Hasil uji t menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada Tinggi Bahu (Tinggi Pundak, TP) pada laki-laki, sedangkan pada Panjang Badan (PB) dan tidak berbeda nyata. Lingkar Dada (LD) pada wanita tidak berbeda dan pada pria berbeda jika dibandingkan dengan SNI. Rata-rata berat badan betina adalah 63,06 ± 39,14 cm. Sedangkan rata-rata bobot badan sapi jantan adalah 135,63 ± 30,98.</p> Syafrizal Syafrizal Copyright (c) 2023 Jurnal Peternakan Borneo http://jpb.politala.ac.id/index.php/jpb/article/view/20 Sat, 30 Dec 2023 00:00:00 +0000 KERAGAMAN PERTUMBUHAN ITIK KAMANG DI PETERNAKAN UNGGUL JAYA FARM http://jpb.politala.ac.id/index.php/jpb/article/view/19 <p>Itik Kamang memiliki bobot hidup dengan keragaman tinggi, sehingga perlunya dilakukan penelitian terhadap itik lokal di Sumatera Barat, yaitu itik Kamang, berupa keragaman pertambahan dan bobot hidup itik sampai umur 10 minggu dalam upaya pengambilan dasar keputusan pengembangan itik lokal di Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan itik Kamang sebanyak 200 ekor, yang terdiri atas 100 ekor itik jantan dan 100 ekor itik betina, yang dipelihara mulai dari umur 1 hari sampai 10 minggu. Parameter yang diamati, yaitu pertambahan dan bobot hidup setiap minggu. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif berupa nilai rata-rata, simpangan baku, dan koefisien keragaman. Nilai koefisien keragaman pertambahan dan bobot hidup itik Kamang termasuk dalam kategori tinggi, yaitu bernilai di atas 15%. Sehingga perlunya dilakukannya seleksi pada Itik Kamang terhadap performa pertambahan dan bobot sebagai upaya pembentukan itik pedaging lokal unggul di Sumatera Barat.</p> <p>Itik Kamang memiliki bobot hidup dengan keragaman tinggi, sehingga perlunya dilakukan penelitian terhadap itik lokal di Sumatera Barat, yaitu itik Kamang, berupa keragaman pertambahan dan bobot hidup itik sampai umur 10 minggu dalam upaya pengambilan dasar keputusan pengembangan itik lokal di Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan itik Kamang sebanyak 200 ekor, yang terdiri atas 100 ekor itik jantan dan 100 ekor itik betina, yang dipelihara mulai dari umur 1 hari sampai 10 minggu. Parameter yang diamati, yaitu pertambahan dan bobot hidup setiap minggu. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif berupa nilai rata-rata, simpangan baku, dan koefisien keragaman. Nilai koefisien keragaman pertambahan dan bobot hidup itik Kamang termasuk dalam kategori tinggi, yaitu bernilai di atas 15%. Sehingga perlunya dilakukannya seleksi pada Itik Kamang terhadap performa pertambahan dan bobot sebagai upaya pembentukan itik pedaging lokal unggul di Sumatera Barat.</p> Teguh Rafian, Firda Arlina Copyright (c) 2023 Jurnal Peternakan Borneo http://jpb.politala.ac.id/index.php/jpb/article/view/19 Sat, 30 Dec 2023 00:00:00 +0000 Review: Pontesi Ayam Hutan Merah sebagai Sumber Daya Genetik Ternak Lokal http://jpb.politala.ac.id/index.php/jpb/article/view/22 <p>Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi karakteristik, pola tingkah laku, dan kondisi pemburuan ayam hutan merah di habitatnya sebagai informasi dasar dalam mengambil keputusan dalam proses pelestarian ayam hutan merah secara eks-situ maupun in-situ. Ayam hutan merah warna bulu berwarna, corak bulu polos, pola bulu liar, kerlip bulu emas, warna <em>shank</em> hitam, tipe jengger tunggal, warna cuping putih, dan warna mata jingga. Ayam hutan merah secara umumnya memakan serangga, cacing, dan buah. Sarang telur ayam hutan berada di tanah dan terbuat dari ranting pohon, daun kering, pohon hidup, dan rumput. Ayam hutan merah diburu dengan menggunakan peralatan berupa ayam pikat, jaring, racik, dan kombinasi kedua alat tersebut. Dapat disimpulkan bahwa program pemuliaan yang dapat diterapkan pada ayam hutan merah adalah program pemurnian (<em>inbreeding</em>) dan persilangan (<em>cross-breeding</em>).</p> Teguh Rafian, Jonathan Anugrah Lase, Woki Bilyaro Copyright (c) 2023 Jurnal Peternakan Borneo http://jpb.politala.ac.id/index.php/jpb/article/view/22 Sat, 30 Dec 2023 00:00:00 +0000 Upaya Peningkatan Limbah Sait dengan Fermentasi Menggunakan Kapang Selulolitik http://jpb.politala.ac.id/index.php/jpb/article/view/21 <p>Penelitian ini bertujuan meninngkatkan kualitas limbah sawit (lumpur dan bungkil sait) dengan menggunakan kapang selulolitik (<em>Phanerochaete chrysosporium</em> dan <em>Neurospora crassa</em>). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3x3 dengan 3 ulangan. Faktor A (dosis inokulum)&nbsp; yaitu: A1 (3%), A2 (5%), A3 (7% dari jumlah substrat) kemudian faktor B (lama fermentasi) yaitu: B1 (5 hari), B2 (7 hari), B3 (9 hari). Peubah yang diamati yaitu: aktivitas enzim selulase (U/ml), Kandungan serat kasar (%BK) dan kecernaan serat kasar (%BK). Hasil analisis ragam menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi antara dosis inokulum dan lama fermentasi tetapi masing – masing faktor yaitu dosis inokulum (faktor A) dan lama fermentasi (faktor B) memberikan pengaruh sangat nyata (P&gt;0,01) terhadap aktivitas enzim selulase dan kecernaan serat kasar namun terjadi interaksi antara dosis inokulum dan lama fermentasi yang berpengaruh nyata (P&gt;0,05) terhadap kandungan serat kasar dari limbah sawit (lumpur dan bungkil inti sawit). Hasil uji DMRT terlihat bahwa kandungan serat kasar pada perlakuan A3B2, A1B3, A2A3 dan A3B3 sangat nyata (P&lt;0,01) lebih rendah dari perlakuan lainnya. Kesimpulan penelitian ini adalah limbah sawit (lumpur dan bungkil inti sawit) dapat ditingkatkan dengan fermentasi menggunakan kapang selulolitik (<em>Phanerochaete chrysosporium</em> dan <em>Neurospora crassa</em>). Dosis yang paling optimal dalam fermentasi menggunakan kapang selulolitik adalah inokulum 7% dan lama fermentasi 7 hari, dimanan diperoleh aktivitas enzim selulase 8,02 U/ml, kandungan serat kasar 13,25% dan kecernaan serat kasar 52,87%.</p> <p>Kata Kunci: Limbah sawit, kapang selulolitik, enzim selulase dan serat kasar</p> Maulana Maulana Fajri Copyright (c) 2023 Jurnal Peternakan Borneo http://jpb.politala.ac.id/index.php/jpb/article/view/21 Sat, 30 Dec 2023 00:00:00 +0000