KERAGAMAN PERTUMBUHAN ITIK KAMANG DI PETERNAKAN UNGGUL JAYA FARM

Authors

  • Teguh Rafian Universitas Lampung
  • Firda Arlina Universitas Andalas

DOI:

https://doi.org/10.34128/jpb.v2i2.19

Keywords:

Itik Lokal, Performa, Produksi, Sumatera Barat

Abstract

Itik Kamang memiliki bobot hidup dengan keragaman tinggi, sehingga perlunya dilakukan penelitian terhadap itik lokal di Sumatera Barat, yaitu itik Kamang, berupa keragaman pertambahan dan bobot hidup itik sampai umur 10 minggu dalam upaya pengambilan dasar keputusan pengembangan itik lokal di Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan itik Kamang sebanyak 200 ekor, yang terdiri atas 100 ekor itik jantan dan 100 ekor itik betina, yang dipelihara mulai dari umur 1 hari sampai 10 minggu. Parameter yang diamati, yaitu pertambahan dan bobot hidup setiap minggu. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif berupa nilai rata-rata, simpangan baku, dan koefisien keragaman. Nilai koefisien keragaman pertambahan dan bobot hidup itik Kamang termasuk dalam kategori tinggi, yaitu bernilai di atas 15%. Sehingga perlunya dilakukannya seleksi pada Itik Kamang terhadap performa pertambahan dan bobot sebagai upaya pembentukan itik pedaging lokal unggul di Sumatera Barat.

Itik Kamang memiliki bobot hidup dengan keragaman tinggi, sehingga perlunya dilakukan penelitian terhadap itik lokal di Sumatera Barat, yaitu itik Kamang, berupa keragaman pertambahan dan bobot hidup itik sampai umur 10 minggu dalam upaya pengambilan dasar keputusan pengembangan itik lokal di Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan itik Kamang sebanyak 200 ekor, yang terdiri atas 100 ekor itik jantan dan 100 ekor itik betina, yang dipelihara mulai dari umur 1 hari sampai 10 minggu. Parameter yang diamati, yaitu pertambahan dan bobot hidup setiap minggu. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif berupa nilai rata-rata, simpangan baku, dan koefisien keragaman. Nilai koefisien keragaman pertambahan dan bobot hidup itik Kamang termasuk dalam kategori tinggi, yaitu bernilai di atas 15%. Sehingga perlunya dilakukannya seleksi pada Itik Kamang terhadap performa pertambahan dan bobot sebagai upaya pembentukan itik pedaging lokal unggul di Sumatera Barat.

References

Arlina, F., S. Sabrina, dan T. Rafian. 2021. Keragaman Fenotipe Kualitatif dan Kuantitatif Itik Kamang sebagai Plasma Nuftah di Sumatera Barat. Jurnal Peternakan Indonesia 23 (3): 247-254.

Bilyaro, W., T. Rafian, dan J. A. Lase. 2023. Penerapan Genetika Pada Usaha Peningkatan Produksi Ternak Dalam Upaya Meningkatkan Produksi Pangan Asal Hewan. Journal of Agriculture and Animal Science 3 (2): 70-77.

Kurnianto, E. 2010. Ilmu Pemuliaan Ternak. Cetakan Pertama. Semarang: Badan Penerbit Universitas Dipenogoro.

Matitaputty, P. R., dan H. Bansi. 2016.Pertumbuhan Dan Produksi Karkas Itik Lokal Gemba Pada Umur 12 Minggu.dalam Presiding Seminar Nasional Peternakan 2. Makassar (ID): Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin.

Prasetyo, L. H., P. P. Ketaren, A. R. Setioko, A. Suparyanto, E. Juwarini, T. Susanti, dan S. Sopiyana. 2010. Paduan Budidaya dan Usaha Ternak Itik. Bogor (ID): Balai Penelitian Ternak.

Rusfidra. R., R. Zein, dan A. M. A. Hasibuan. 2012. Ukuran Populasi Efektif. Ukuran Populasi Aktual dan Laju Inbreeding Per Generasi Itik Lokal di Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam. JPI 14(3):461–65.

Steel, R. G. D., dan J. H. Torrie. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistika : Suatu Pendekatan Biometrik. Jakarta (ID): PT Gramedia Pustaka Utama.

Suhaemi. Z., N. Fati, dan J. R. Manullang. 2019. Production Potential of Local Duck in West Sumatera for Human Nutrition and Biodiversity Conservation.Journal of Scientific and Engineering Research 6(12):196– 200.

Yurnalis. Y., H. Husmaini, dan S. Sabrina. 2017.Polymorphisms of Growth Hormone Gene Exon 1 and Their Associations with Body Weight in Pitalah and Kumbang Janti Ducks. Int. J. Poult. Sci. 16(5):203–8.

Downloads

Published

2023-12-30

How to Cite

Rafian, T., & Arlina, F. (2023). KERAGAMAN PERTUMBUHAN ITIK KAMANG DI PETERNAKAN UNGGUL JAYA FARM. urnal eternakan orneo, 2(2), 39–42. https://doi.org/10.34128/jpb.v2i2.19